Wisata Menonton Paus Berpotensi Dikembangkan di NTT
Wisata Menonton Paus Berpotensi Dikembangkan di NTT
Baca juga info : kursus bahasa
inggris
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi untuk mengembangkan wisata menonton paus (whale watching) dengan berbasis konservasi.
"NTT bisa mengembangkan wisata menonton paus berbasis konservasi,
yang tentunya akan mendukung program konservasi perairan dari pemerintah
yakni Taman Nasional Perairan Laut Sawu," kata Pengamat kelautan dan
perikanan dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Dr Chaterina A
Paulus MSi kepada Antara di Kupang, Rabu (25/4).
Dia
mengemukakan hal itu, berkaitan dengan penemuan muntahan Paus di
Kabupaten Lembata dan Kota Kupang beberapa waktu lalu. Potensi Paus di
wilayah perairan itu dinilainya bisa bermanfaat secara ekonomis.
Baca juga info : kursus
bahasa inggris di al azhar pare
"Menurut
saya, inilah saatnya kita secara bijak memikirkan masa depan dari
'Setasean' yang berharga ini, baik dari sisi ekologis, ekonomis, dan
sosial budaya," katanya.
Setasean adalah sebutan umum bagi
mamalia lautan antara lain paus, lumba-lumba dan pesut. Bernapas
menggunakan paru-paru dan berproduksi dengan cara melahirkan.
Perhatian
ini penting mengingat paus ini adalah ikon dari provinsi berciri
kepulauan yang ke depannya bukanlah suatu yang tidak mungkin dengan
kondisi perairan tropis hangat yang NTT miliki adalah wilayah migrasi
musiman dari Paus, katanya.
Baca juga info : info
kursus bahasa inggris mudah
Dia juga mengharapkan, Universitas Nusa Cendana dan beberapa perguruan tinggi lainnya, harusnya menjadi center of excellence dari pengelolaan Setasean di wilayah Indonesia.
Hal
yang sangat memungkinkan sekali, karena sudah ada komitmen pemerintah
dari aspek kelembagaan yaitu dengan adanya Dewan Konservasi Perairan
Provinsi (DKPP) NTT.
DKPP NTT ini, sudah termasuk
didalamnya Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional dan UPT pusat dari
Kementerian Kelautan dan Perikanan, katanya.
Baca juga info : kursus bahasa
inggris di pare
Chaterina
juga mengajak semua elemen, terutama generasi muda NTT khususnya, agar
menjadi garda terdepan dalam menjaga Indonesia sebagai pusat
keanekaragaman hayati baik setasean maupun biota lainnya untuk
kesejahteraan masyarakat saat ini dan masa yang akan datang.
"Kalau
bukan sekarang, kapan lagi. Kalau bukan kita, siapa lagi," kata
pengajar pada program studi Ilmu Lingkungan Pascasarjana Undana ini
dalam nada tanya.

Comments
Post a Comment