Meningkatkan Kesadaran Terhadap Penyakit Asma
Meningkatkan Kesadaran Terhadap Penyakit Asma
Baca juga info : info
kursus bahasa inggris
Masyarakat diharapkan terus meningkatkan kesadaran terhadap asma
mengingat penyakit tersebut semakin banyak terjadi pada anak-anak
dibandingkan orang dewasa khususnya di negara-negara berkembang. Apalagi
proses pengendaliannya cukup panjang.
"Dengan semakin meningkatnya kesadaran terhadap asma, akan lebih
banyak penderita dengan gejala-gejala penyakit tersebut datang untuk
memeriksakan diri dan mendapatkan penanganan yang efektif, sehingga akan
membantu mereka menjalani kehidupan yang sehat," kata dokter spesialis
saluran pernapasan dari Farrer Park Hospital Singapura, Dr Alvin Ng
Choon Yong dalam keterangan resmi yang diterima media di Jakarta, Senin
(30/4).
Baca juga info : kursus
bahasa inggris di al azhar pare
Menurut dia, penyakit asma memang cenderung muncul
pada usia dini. Asma merupakan penyakit kronis pada saluran pernapasan
yang disebabkan oleh faktor keturunan maupun lingkungan.
Organisasi
kesehatan dunia World Health Organisation (WHO) menyatakan jumlah
penderita penyakit asma di seluruh dunia mencapai sekitar 235 juta
orang.
Baca juga info : info
kursus bahasa inggris mudah
Dr Alvin Ng menambahkan kebanyakan anak-anak
penderita asma pada saat tumbuh dewasa merasa lebih baik dan berpikir
bahwa mereka telah sembuh dengan semakin besarnya saluran pernapasan.
Kenyataannya, mereka sering mengalami radang atau pembengkakan saluran
pernapasan dan penyakit asma yang diderita semakin memburuk.
"Penderita
penyakit asma perlu meneruskan pengobatan dan melakukan penanganan
lanjutan secara teratur," kata Dr Alvin Ng yang mengeluarkan himbauan
berkaitan dengan Hari Asma Sedunia yang jatuh setiap 1 Mei itu.
Baca juga info : kursus bahasa
inggris di pare
Secara
umum, kata dia, pengobatan penyakit asma terbagi pada tahap pencegahan
dan peredaaan. Pada tahap pencegahan digunakan jenis obat corticosteroid
dengan menggunakan alat bantu hisap atau inhaler. Sedangkan pada tahap
peredaan digunakan jenis obat beta agonist seperti Ventolin yang juga
menggunakan inhaler.
Selain itu, kata dia, tidak kalah
penting adalah mengurangi atau menghilangkan pemicu dari faktor
lingkungan seperti debu, serangga dan hewan peliharaan yang mungkin
menimbulkan alergi bagi penderita penyakit asthma.
Untuk
menangani alergi pada penderita penyakit asma, pihaknya melakukan satu
terapi pengobatan untuk menangani alergi yang disebut Sublingual
Immunotherapy (SLIT). Beberapa pasien yang menjalani terapi SLIT
mengalami pemulihan secara terus menerus dari gejala-gejala alergi.
Namun, ada pula yang kambuh karena tak melanjutkan terapi SLIT.
"Banyak
pasien penyakit asma yang tidak dapat membedakan pengobatan untuk tahap
pencegahan dan peredaan. Saat mereka mengalami serangan penyakit
asthma, mereka langsung menggunakan obat pereda", katanya menambahkan.
Baca
juga info : daftar kursus kampung inggris pare
"Tanpa
menggunakan obat pencegah, penyakit asma yang diderita akan semakin
parah. Bahkan dapat mengancam kehidupan mereka sehingga membutuhkan
penanganan Intensive Care Unit (ICU) dan ventilasi mekanis. Dengan
demikian, penderita asma perlu melakukan pengobatan pencegahan secara
teratur untuk menjaga agar penyakitnya dapat dikendalikan," katanya
menerangkan.

Comments
Post a Comment